Yogiswara Blog's

Copy Paste and Learning some Thinks

Retorika dalam pertemuan

leave a comment »

Menyampaikan padangan suatu pertemuan pada hakikatnya tidak berbeda dengan menyampaikan pandangan dalam penulisan. Subtansi yang disampaikannya bias jadi sama. Persyaratan penyampaian pandangan seperti menggunakan bahasa yang runut , logis dan santun diberlakukan baik penyampaian pandangan dalam pertemuan maupun dalam penulisan. Jika ada perbedaan dalam penyampaian pandangan pada suatu pertemuan adalah terletak pada medium penyampaiannya, yakni dengan media bahasa lisan Dan karena menggunakan bahasa lisan, penyampaian pandangan dalam suatu pertemuan memerlukan upaya lebih intensif dalam menjaga santun berbahasa.
       Perlunya menjaga santun berbahasa lebih intensif dalam penyampaian pandangan pada suatu pertemuan didasari beberapa pertimbangan. Pertama, sebuah pertemuan pada hakikanya merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal (interpersonal communication). Dalam komunikasi interpersonal menjaga kelancaran komunikasi menjadi tanggungjawab berasama partisipan komunikasi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengkondisikan agar semua partisipan komunikasi berusaha lebih banyak mendengar, mengalah, menerima dan sesekali memberikan kontribusinya secara tulus, jujur, dan bertanggung jawab kepada mitra komunikasinya. Dengan cara seperti ini diharapkan komunikasi interpersonal bukan hanya akan berjalan lancar, tetapi juga gayeng dan harmonis. Kedua, sebuah pertemuan dapat berbentuk permusyawaratan, ataupun perdebatan. Dalam suatu pertemuan pasti terlibat sejumlah orang yang memiliki karakteristik, pola piker, dan gaya bicara yang berbeda. Karakteristik pola piker dan gaya bicara para peserta pertemuan akan berpengaruh terhadap karakteristik permusyawaratan, perapatan, ataupun perdebatan dalam sebuah pertemuan. Akibat logis dari karakteristik yang khas dari sebuah pertemuan, maka penyampaian pandangan akan berlangsung secara khas pula. Ke-khasan penyampaian pandangan dalam pertemuan itu memungkinkan sebuah pertemuan menjadi dinamis, variatif dan bahkan mungkin atraktif.

       Dalam kondisi sebuah pertemuan yang dinamis, variatif, dan atraktif memperhatikan retorika dalam penyampaian pandangan menjadi penting dilakukan. Penting dilakukan karena retorika memberikan semacam panduan kesantunan dalam bekerja sama antar sesama peserta pertemuan, khususnya santun dan kerja sama dalam menyampaikan pandangan yang baik, diharapkan kedinamisan, kevariatifan, ataupun keatraktifan yang disebut pertemuan itu dapat berlangsung dalam koridor kepositifan, yakni tertib, lancar, dan membuahkan hasil maksimal.
 
Retorika Berbahasa

Retorika merupakan seni berkomunkasi dengan menggunakan media bahasa secara efektif (the art of effective coomunication). Efektivitasnya akan tampak pada dapat dipahaminya pesan yang disampaikan oleh mitra komunikasi. Ini berarti, retorika menuntut terjadinya pemilihan kata yang mungkin dapat digunakan. Ketepatan kata itu dapat dilihat pada kesesuaiannya dengan pesan yang ingin disampaikan, kecocokannya dengan mitra komunikasi, dan kelaziman kata yang dipilih itu digunakan. Dengan pemilihan kata yang tepat dan digunakan dalam situasi yang tepat akan terjadi interelasi yang efektif.

Interelasi akan berjalan secara efektif jika memenuhi syarat-syarat khusus komunikasi. Syarat itu setidaknya berkait dengan tiga hal. Pertama, isi/pesan (message) haruslah berterima menurut logika yang lazim. Kedua, media penyampai/bahasa (language) harus sesuai dengan struktur yang berlaku bagi bahasa yang dipakai sebagai media penyampainya. Ketiga, penyampai pesan harus bersikap lugas dan jujur dalam menyampaikan pesan kepada pendengan (audience). Dengan demikian, interelasi akan terjadi jika dalam komunikasi penyampai pesan bersikap jujur, berpikir logis, dan berbahasa santun. Komunikasi yang memungkinkan terjadinya interelasi inilah hakikat retorika.

       Dengan demikian dapat dipahami bahwa retorika adalah seni menyampaikan sesuatu dengan media bahasa. Dapat dipahami pula jika kemudian retorika menampkkan jati dirinya pada pemilihan kata dalam bentukan kalimat, tatanan kalimat dalam paragra, dan paduan paragraf dalam susunan wacana. Tatanan kata dalam kalimat, paduan kalimat dalam paragra, dan rangkaian paragrafdalam wacana yang bertahtakan retorika bukan hanya mudah diikuti penalarannya dan mudah dipahami maksudnya, tetapi juga enak dibaca atau didengarkannya. Bahkan untaian wacana yang berhiaskan retorika akan memberikan keindahan rasa, kenyamanan selera, dan kekerasanan berjaga pada saat membaca atau mendengarkannya. Hal ini terjadi karena retorika bukan hanya mengandalkan seni tata berbahasa, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kerelaan berkorban terhadap sesama.

Retorika Penyampaian Pandangan

Penyampaian pandangan dalam sebuah pertemuan merupakan salahsatu wujud penggunaan retorika berbahasa. Sebagai sebuah bentuk retorika berbahasa penyampaian pandangan pada sebuah pertemuan bukan hanya mempersyaratkan kebenaran pesan yang disampaikan dan seni tata berbahasa, tetapi juga dapat diterima logika. Bahkan keberterimaan logika dalam penyampaian pandangan merupakan hal yang sangat penting.

      Penggunaan logika dlam berargumentasi, termasuk logika menyampaikan pandangan pada sebuah pertemuan, merupakan wujud dari kekuatan pandangan yang disampaikan. Pandangan yang disampaikan atas dasar logika yang kokoh akan mampu menyakinkan mitra komunikasi. Terhadap pandangan yang diterima merupakan tujuan akhir dari penyampaian pandangan. Keberterimaan inilah salah satu wujud kekuatan retorika penyampaian pandangan.

       Penggunaan logika yang kokoh dalam menyampaikan pandangan pada sebuah pertemuan juga harus dibarengi dengan pemanfaatan etik. Etika penyampaian pandangan dapat diwujudkan dalam penggunaan wacana yang selaras dengan kondisi pertemuan. Ada beberapa teori yang dapat dipedomani dalam penataan wacana yang akan digunakan dalam menyampaikan pandangan dalam sebuah pertemuan. Pertama teori komunikasi interpersonal yang dikemukakan De Vito (1989) dalam bukunya yang berjudul the interpersonal communication Book. Teori ini memberikan arahan pada setiap orangyang terlibat dalam komunikasi dengan sesamanya. Dinyatakan  bahwa dalam komunikasi interpersonal seseorang harus laku dan bersikap positif terhadap mitra komunikasinya. Perilaku dan sikap yang harus diwujudkan dalam komunikasi interpersonal adalah (1) terbuka; (2) empati; (3) sportif; (4) positif; (5) equalitif.

       Teori komunikasi interpersonal yang dikemukakan oleh De Vito ini memberikan penjelasan bahwa dalam menyampaikan pandangan pada suatu pertemuan hendaknya memperhatikan mitra pertemuanny. Perhatian itu harus diwujudkan dalam sikap terbuka, empati, sportif, positif dan equalitif. Sikap terbuka diperlukan agar pertemua menjadi lebih bermakna, karena pandangan dikemukakan secara jujur, apa adanya, dan dapat diketahui oleh semua peserta. Sikap empati dieprlukan agar pertemuan menjadi gayeng karena semua pihak menempatkan dirinya pada posisi sebagai mitra dalam pertemuan. Sikap sportif diperlukan agar pertemuan menjadi hidup tidak ada yang merasa disalahkan atau dikalahkan karena pandangan dikemukakan semata mata berdasarkan suatu kebenaran. Dan sikap positif diperlukan agar pertemuan menjadi harmonis karena semua peserta bersikap tegas pada dirinya baik dalam hal substansi pandangannya maupun posisinya sebagain mitra komunikasi. Sedangkan equalitif (dukungan) diperlukan untuk memberikan rasa dihargai dalam diri mitra komunikasi.

       Kedua, teori tentang prinsip kerjasama dan prinsip sopan santun yang dikemukakan Searle (1969). Prinsip sopan santun dan prinsip kerja samanya Searle ini pada hakikatnya berupa tuntutan kelugasan ketegasan dan kejujuran penyampaian pandangan dalam suatu pertemuan. Kelugasan, ketegasan dan kejujuran ini bagi penyampai pandangan merupakan wujud tidak pertanggungjawaban, tindak kesopan-santunan dan tindak kerja samnya dengan sesama peserta pertemuan. Penyampai pandangan dalam sebuah pertemuan yang bertanggungjawab adalam penyampai pandangan yang menyatakan kebenaran pesan. Penyampai pandangan dalam perteman adalah yang menggunakan tatanan bahasa yang dapat dipahami dan diterima peserta pertemuan. Dan penyampai pandangan dalam pertemuan yang mau bekerja sama dalah penymapi pandangan yang dengan senang hati melayani dalam pertemuan, bukanyang mau menang sendiri.

      Sehubungan dengan uraian itu, Austin (1962) menyatakan bahwa berbahasa merupakan salah satu bentuk tindakan (speech act). Sebagai salah satu bentuk tindakan, penyampaian pandangan dengan media bahasa harus dilakukannya dengan penuh rasa tanggungjawab. Tanggungjawab ini diwujudkan dalam bentuk bahasa selaras dengan isi/pesan pandangan yang dimaksudkan dan sasaran yang dituju. Dengan kata lain, substansi isi/pesan pandangan harus mengandung kebenaran. Tanggungjawab terhadap kebenaran dan subtansi isi pandangan ini bukan hanya dituntut dari penyampai pandangan tetapi juga dari mitra pertemuan. Penyampai pesan bertanggungjawab atas kebenaran substansi isi/pesan dan kesesuaian denganbahasa yang digunakan dan penerima pesan memahaminya sesuai denganmaksud dan tujuan penyampaian pandangan.

       Sejalan dengan pendapat dikemukakan diatas, Grice (1975) memberikan saran yang mempersyaratkan seseorang dalam menggunakan bahasa sebagai penyampaian pandangan. Saran yang mempersyaratkan ini disebutnya sebagai Prinsip Kerja Sama (PK) dan Prinsip Sopan Santun (PS). Menurut Grice siapapun orangnya jika ia menggunakan bahasa dalam menyampaikan pesan (termasuk menyampaikan pandangan dalam suatu pertemuan) harus menganut prinsip yang disebutnya PK dan Ps itu. Inti dari teori ini adalah bahwa setiap orang yang mengemukakan pandangannya itu, tetapi tidak boleh lebih dari pada keharusannya menghargai pandangan mitra pertemuan.

       Secara rinci teori PK dalam mengemukakan pandangan dirumuskan sebagai berikut (1) jangan mengatakan sesuatu yang anda sendiri tidak yakin akan kebenarannya; (2) usahakan perkataan Anda ada relevansinya dengan tujuan Anda; dan (3) usahakan perkataan Anda mudah dimengerti orang lain.

Sedangkan teori PS dirumuskan sebagai berikut (1) buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin; (2) usahakan kesempatan untuk orang lain sebesar mungkin; (3) usahakanlah rasa antipati diri kita dengan orang lain sedikit mungkin; (4) pujilah diri sendiri sesedikit mungkin; (5) kurangilah kecaman kepada orang lain; (6) buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin.

        Rumusan-rumusan teori retorika ini memberikan penjelasan yang sangat filosofis. Jika penyampaian pandangan dilakukan denganmenggunakan prinsip-prinsip tersebut, tentu sebuah pertemuan akan menjadi hidup, seimbang, harmonis, dan efektif. Jika sebuah pertemuan berlangsung demikian, dapat dibayangkan pertemuan itu pasti menjadi sesuatu yang ditunggu untuk dilakukan kemudian. Pertemuan seperti itu bukan hanya akanmenjadi media berdiskusi memecahkan masalah, tetapi juga menjadi sarana rekreasi peserta pertemuan. Inilah wujud retorika berbahasa yang hakiki.

      Namun perlu digaris bawahi bahwa setiap prinsip dalam komunikasi interpersonal, prinsip kerja sama, dan prinsip sopan santun dalam menyampaikan pandangan pada suatu pertemuan yang telah diuraikan dimuka memberikan pemahaman kepada kita bahwa berkomunikasi itu pada hakikatnya menuntut kemampuan beretorika. Eksistensi kemampuan beretorika harus diwujudkan dalam kejujuran, keterbukaan, kesantunan, dan tanggung jawabpeserta pertemuan dalam menyampaikan pandangan. Jadi, hakikat seni beretorika adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa dengan tatanan yagn rancak dan disampaikan secara jujur, bertanggung jawab, dan santun.

Written by yogiswara

08/10/2009 at 13:35

Posted in Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: