Yogiswara Blog's

Copy Paste and Learning some Thinks

Waisak – Borobudur

leave a comment »

Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama. Tiga peristiwa penting itu adalah:
Kelahiran Pangeran Sidharta
Pangeran Sidharta adalah Putra seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir kedunia sebagai seorang Bodhisatva ( Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertingggi ). Beliau Lahir di taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi
Pencapaian Penerangan Sempurna
Pangeran Sidharta pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan Istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari USIA TUA, SAKIT, dan MATI. Kemudian Pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar SANG BUDDHA.
Pencapaian Parinibbana
Ketika usia 80 tahun Sang Buddha Wafat atau PARINIBBANA di Kusinara. Semua mahkluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para anggota Sanggha , mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.

Berikut Kutipan Renungan Waisak By Gede Prama

Seperti sudah membaca tanda-tanda zaman, lebih dari seribu tahun yang lalu tetua di Jawa sudah meramalkan akan datang zaman penuh kekerasan. Jangankan kekuasaan, bahkan agama pun menjadi sumber kekerasan. Jangankan di negeri miskin, bahkan di negeri kaya pun kekerasan menakutkan. Karena alasan itulah, di tempat teduh tidak jauh dari Merapi dikelilingi sungai sejuk tetua mendirikan monumen kelembutan bernama Borobudur. Disebut monumen kelembutan, karena sejak awal Borobudur mewartakan kelembutan.

calon Buddha (Bodhisattva) yang diceritakan di Borobudur

  • Suatu  hari seekor burung kecil lembut sedih  melihat hutan terbakar. Maka diambil air setetes demi setetes untuk memadamkan kebakaran. Di puncak kelelahannya burung ini mati kelelahan. Warisan makna yang disisakan sederhana: “Tidak ada kebajikan yang terbuang percuma. Perjalanan panjang pencerahan memerlukan tabungan kebajikan berlimpah”.
  • lahir sebagai monyet lembut yang berempati melihat pemburu tersesat di hutan. Demikian lembutnya, dibimbinglah pemburu ini keluar hutan. Namun, sesampai di pinggir hutan pemburu tadi membunuh sang monyet sebagai menu makan hari itu. Jejak spiritual yang disisakan kisah ini terang benderang: “Kebajikan kadang diikuti kesialan. Tapi kesialan bukan alasan untuk menghentikan kebajikan. Terutama karena pencerahan memerlukan dua syarat, tabungan kebajikan  berlimpah (accumulation of merit) serta simpanan kebijaksanaan yang tidak berhingga (accumulation of wisdom)”.
  • Seorang panglima kerajaan suatu hari menemukan pertapa dengan vibrasi kelembutan mengagumkan. Maka dimintalah ia meditasi di taman istana. Rupanya selir-selir raja jatuh cinta pada kelembutan Bodhisattva ini, maka marahlah raja. Sambil membawa algojo, raja bertanya apa yang diajarkan pertapa. Dijawabnya dengan lembut: “Kesabaran baginda”. Tambah panas hati raja kemudian bertanya lebih lanjut: “Apa itu kesabaran?”.Tanpa ada tanda-tanda takut, tauladan kelembutan ini berucap: “Kesabaran adalah tidak bereaksi tatkala disakiti Baginda”. Murka rajanya, kemudian meminta algojo memukuli tubuh manusia lembut ini hingga berdarah-darah. Tatkala ditanya lagi arti kesabaran lagi-lagi ia menjawab: “Kesabaran adalah tidak bereaksi tatkala disakiti “.tambah kalap rajanya kemudian mengambil golok algojo memotong sendiri tangan dan kaki pertapa, kemudian berteriak bertanya arti kesabaran. Lagi-lagi kelembutan tidak terbang dari batin pertapa ini: “Kesabaran adalah tidak bereaksi tatkala disakiti “. Ukiran makna yang disisakan kejadian ini sederhana: “Senapan bisa menghilangkan sejumlah musuh. Tapi kesabaran bisa melenyapkan semua musuh”.
  • Di kehidupan lain, sorang tokoh bernama Sutasoma yang sangat menghormati ajaran spiritual dan Guru. Saat Sutasoma sedang duduk di kaki Guru  mendengarkan ajaran, tiba-tiba penghuni istana kalut ketakutan karena ada raksasa yang mencari Sutasoma untuk dimakan. Dengan tenang pangeran ini menyerahkan diri pada raksasa untuk dimakan. Terutama karena menyadari, pemberian  adalah urutan pertama dalam enam kesempurnaan. Saat siap dibunuh, tiba-tiba sutasoma sadar ia belum mengucapkan terimakasih pada Gurunya. Dan memohon untuk pamit sebentar hanya untuk mengucapkan terimakasih. Entah karena kenapa raksasanya mengizinkan, namun begitu Sutasoma kembali raksasa tertawa terpingkal-pingkal menghina dengan tuduhan tolol.Dengan tatapan mata seorang Guru ke muridnya, ia berbisik: “Dalam batin yang sudah diterangi spiritualitas, kejujuran tidak lagi menyiksa. Kejujuran sesederhana menghirup udara segar”. Bahan kelembutan yang disisakan kisah ini mudah dicerna: “Bagi kebanyakan orang, melaksanakan kejujuran sangat menyiksa. Takut miskin, takut kekurangan uang, takut tua sia-sia. Namun, dalam penggalian ke dalam yang mengagumkan, kejujuran sesederhana menarik udara segar di pegunungan. Mudah, murah, menyegarkan”.
  • Kelahiran terakhir sebagai manusia sebelum Bodhisattva ini menjadi Buddha, ia bernama Veshantara. Sederhananya berarti, ia yang melepaskan semuanya. Calon raja ini sejak muda sudah biasa memberikan semuanya. Bahkan anak dan istrinya pun diberikan orang. Rajutan maknanya sempurna: “Kebajikan, kesabaran, kejujuran terus menerus layak dilakukan. Tapi apa pun hasilnya, jangan lupa dilepaskan. Tanpa kemampuan melepaskan,  kebajikan, kesabaran, kejujuran bisa menjadi bibit-bibit penderitaan. Terutama karena merasa berbuat baik kemudian minta dibalas dengan kebaikan, karena sabar kemudian minta disebut suci, karena jujur kemudian minta naik pangkat”.

Bila kekerasan bermusuhan bahkan dengan sesama kekerasan, kelembutan memeluk lembut semuanya. Perhatikan cahaya yang memancar dari langit. Matahari bersinar sama terangnya di negara beragama dan ateis. Demikian juga bulan dan bintang. Meminjam Martin Luther King Jr.: “To be healed, everyone should be healed”. Tatkala perut sakit, tidak mungkin membuang perut, ia mesti dirawat. Ini serupa dengan peradaban, kekerasan menunjukkan ada bagian tertentu peradaban sedang sakit. Membuang kekerasan sama dengan membuang perut yang sakit. Makanya, salah satu pendekatan penting dalam meditasi bernama carefulness. Batin belum tercerahkan memang lompat-lompat, sehingga mudah menghasilkan kekerasan. Namun seperti kelinci yang lompat-lompat, semakin dirawat semakin lembut lompatannya. Umat manusia memerlukan tokoh yang bisa “merawat” adik-adik kita yang gelap oleh kekerasan. Selamat hari Tri Suci Waisak. Semoga kelembutan memeluk lembut peradaban.

Tulisan Asli Renungan Waisak 2555 by Gede Prama

Written by yogiswara

18/05/2011 at 08:25

Posted in Mind Set

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: